Rasanya Baru Kemarin

Senin, 12 Oktober 2020

Rasanya baru kemarin saya ketik-ketik cerita proses melahirkan abang, ternyata sudah 1 tahun yang lalu. Seperti air yang keluar dari keran di kamar mandi, seperti itu cepatnya waktu berlalu. Mengingat hari ulang tahun abang adalah hal yang sangat mudah. Abang lahir bertepatan dengan peringatan G30S PKI.


Abang,
Rasanya baru kemarin perut ibu sakit luar biasa setiap 5 menit sekali. 
Rasanya baru kemarin ibu nangis karena harus pulang dari RS sedangkan abang masih harus di NICU.
Rasanya baru kemarin teman2 sahabat saudara datang ke rumah untuk melihat abang.
Rasanya baru kemarin ibu belajar mengASIhi
Rasanya baru kemarin ibu harus beradaptasi dengan jam tidur abang
Rasanya baru kemarin untuk semua semua hal terjadi tentang abang.

Adipati
Maaf untuk keegoisan ibu sehingga semua hal ini terjadi.
Selamat dua belas bulan ya.
Tumbuhlah jadi laki2 normal yang jujur, cerdas, menyenangkan, memberi kebahagiaan ke orang2 sekitar, tanggung jawab dan apa adanya. Aamiin
Ibu sayang Adipati.
Terima kasih sudah memberikan banyak pelajaran untuk ibu.
Ibu sayang Adipati.
Ibu sayang Adipati
Dan Ibu sayang Adipati.

Adipati Karna Jatmika

Minggu, 06 Oktober 2019

Di blog sebelumnya yang berjudul bulan kesepuluh, saya sempat menulis....
"namun kau bebas keluar kapanpun semaumu"
Dan ternyata si bayik memilih keluar dari rahim ibunya tanggal 30 September 2019.
.
Jadiiiii hari minggu, 29 September 2019 setelah isya, perut saya mulai kontraksi, tapi jarang2 dan durasinya tak menentu. Menurut google itu namanya kontaksi palsu. Lalu menjelang jam tidur kira2 jam 10 malam, saya merasakan kontraksi yg mulai rutin, kira2 10 menit sekali. Semakin larut malam kontaksi saya semakin kuat, saya merasakannya 5 menit sekali, tidur pun saya tidak bisa. Hingga menjelang adzan subuh, saya menemukan darah keluar ketika buang air kecil.
Adzan subuh berkumandang kontraksi semakin kuat, saya membangunkan miko untuk segera mengantar ke klinik.
Dengan pikiran "apa hari ini gua mau mati ya." 🙄
Disaat kontraksi yg masih kuat terjadi setiap 5 menit sekali, saya sampai klinik namun kliniknya di gembok, satpam tidak menyaut saat saya ketok2 pagar, padahal lampu ruang tunggu klinik menyala dan klinik buka 24 jam. Akhirnya, kami memutuskan pergi ke rumah sakit terdekat yang bisa menerima pasien bpjs. Pilihan kami jatuh kepada RS Permata Keluarga Cikarang....
Sampai di rumah sakit ternyata kata bidan (atau perawat ya), saya sudah pembukaan 8 😑 pantes aja sakit banget yaelah....
Tidak mudah ternyata untuk mengejan dengan baik dan benar di tengah perut yang mules juga tubuh yang seharian tidak tidur serta belum sarapan.
Karena hal itu, sampai ada 3 bidan yang menolong untuk mengeluarkan bayi.
Sempat hampir putus asa dan mau di sc saja, bidan pun (atau perawat ya) sudah menghubungi dokter yang berjanji akan datang jam 7, tapi alhamdulillah bayi keluar jam 6.40 jadi Dokter belum sempat datang dan kata bidan "masih rezeki bu".
Bidannya baik2 banget, sabar, penuh semangat juang dan menguatkan hehehe
Tapi sayangnyaaaaa
Saya lama di persalinan akibat tidak kuat mengejan, si bayi menjadi harus menelan mekonium, dia tertahan lumayan lama, sempat beberapa menit rambutnya keluar tp saya sulit sekali mengejan dengan benar. Dia pun harus di rawat di nicu selama 3 hari.
Sedih sebenarnya melihat anak sekecil itu harus di pasang selang di tubuhnya, tidur di ruangan yang terpisah dengan bayi lain, dan belum sempat saya lakukan IMD.
Tapi demi kesehatannya, yah tidak mengapa...
Jadi, dia baru tau aroma ketek mamak nya setelah 3 hari dilahirkan...
Alhamdulillah tanggal 3 Oktober si bayi sudah sehat dan sudah diizinkan dokter untuk pulang ke rumah.
Terima kasih kepada para pembaca..
Doakan dia agar menjadi anak yang tampan, tepat pada janji, dermawan, jujur, gigih, getir, tidak mendapat kemenangan dengan jalan kecurangan dan setia seperti Adipati Karna.

Bulan ke sepuluh kehamilan

Senin, 23 September 2019

Hai,
Aku udah sampai di bulan ke sepuluh kehamilan.
Bulan dimana aku ngerasa bawa2 semangka kemana2, aku ngerasa males main karena jalan makin seperti pinguin.
Bulan dimana aku tau apa itu namanya sakit pinggang, kaki kram, vagina ngilu, tulang paha ngilu, susah bergeser, dan ga pernah dapet posisi tidur yang enak.
Bulan dimana aku ngerasa dunia ini makin panas walau aku ada di depan Kipas angin dan aku juga ngerasain hentakan di perut makin kuat, walau sudah agak jarang.
Bulan dimana radang sendi di jari tangan kambuh lagi.
Bulan dimana aku rajin baca2 artikel dan rajin liat youtube untuk dapet info seputar persalinan dan menyusui.
HPL ku tanggal 9 oktober menurut dokter.
Tanggal 4 oktober menurut bidan.
Dan tanggal 10 Oktober menurutku hahahaha karena aku berharap anak ini lahir di tanggal cantik.
Dibulan ini, aku lagi harap2 cemas.
Menunggu si bayi keluar dari perut.
Menikmati hentakan di perut setiap harinya.
Memberikan sugesti2 positif ke diri sendiri dan ke bayi.

Nak, kau bebas keluar kapanpun semaumu.
Tapi demi keselamatanmu, dokter memberikan batas waktu sampai tanggal 16 Oktober. Sampai jumpa sayang 💐

Bulan ke 7, ke 8, dan ke 9 Kehamilan

Hallo, di trimester ini aku mulai pakai BPJS hihihi udah ga bayar pribadi lagi karena niatnya nanti lahiran mau pakai BPJS.
Karena itu, aku mulai rajin pergi ke klinik untuk cek kandungan, udah bukan di dokter hartoyo lagi. Kangen sih ama dokter Hartoyo yang baik banget, tapi alhamdulillah aku dapat kesempatan 3x ketemu beliau utk USG sekalian konsultasi pakai bpjs di trimester 3 ini.
Beliau tetap ramah lho...
Ga membedakan saat aku jadi pasien non bpjs dan saat aku jd pasien bpjs.
Masyallah dokter.... semoga sehat selalu dan rezeki makin banyak.🍭💐
Setelah aku liat di kwitansi, bayaran konsul dokter dikurangi 40.000 kalau si pasien pakai bpjs. Jadi yaaa wajar aja ada beberapa dokter agak judes kalau pasiennya pakai bpjs. Alhamdulillah dokter hartoyo bukan termasuk si judes hehehe

Bulan ke tujuh kehamilan...
Bulan ini bener2 bulan yg menguras kantong 🤣
Selain karena duit abis untuk acara 7 bulanan, pun akan abis untuk membeli keperluan bayi. Tapi gapapa....
Yang penting aku dan miko masih sehat sehingga tetap bisa cari uang 🙄 #ApasihRis

Setelah kontrol kandungan di klinik GBH, alhamdulillah banget dapet bidan baik, apa aja yang aku tanya, dia akan jelasin detail, namanya bidan nur. Bidannya masih muda dan penjelasannya juga ok banget. Satu lagi, bidannya wangiiiiiiiiiiiiiiiiii 😆
Makin seneng dong ya bumil, udah bidan baik, enak diajak konsul, wangi lagi....
Aku mulai di tanya buku Pink sama bidannya. Duh paniklah ya, selama ini aku anggap itu buku ga penting 😅
Karena dokter ga ngasih dan juga ga nanya. Setelah di jelasin sama bidan dan aku baca2 di google, ternyata buku itu bisa di dapat di puskesmas atau posyandu.
Aelah, pantes aja riris ga punya 😅
Karena ga mau ribet, ga mau diomelin juga sama petugas puskesmas atau posyandu akibat kenapa pas 7 bulan baru punya buku KIA, akhirnya riris memutuskan untuk beli buku itu di shopee.
Nah untuk bumil bumil jangan sampe kayak riris ya, pas 7 bulan baru punya buku ini, telat banget. Padahal manfaatnya banyak. Walau kata pepatah, lebih baik telat daripada tidak sama sekali.

Bulan ke 8 kehamilan....
Bulan ini aku minta rujukan utk usg di RS dan bertemu dokter hartoyo, aku mau tau apakah janin baik2 aja atau engga. Tapi sayang, karena pakai bpjs jadi aku ga bisa bawa pulang foto usg nya. 😅
Gapapalah, yg penting kata dokter, bayinya sehat, posisi aman, kepala di bawah, dan air ketuban cukup 😬

Bulan ke 9 kehamilan...
Bulan ini bener2 bulan yang bikin riris keliatan seperti pinguin dewasa 😆
Jalan mulai susah, geser badan pas duduk juga susah, karena si bayi makin besar.
Tapi seneng sih, ngerasa kandungan aman dan baik2 aja. Sudah melewati masa hamil sesantuy ini, ga da mual, ga da ngidam, ga da pusing, ga da stretch mark, ga ada hitam di leher, ga da kaki bengkak, ga da badan bengkak, ga da tangan bengkak, ga da jerawatan, dan ah banyak hal2 santai lain yg aku alami.
Bersyukur banget rasanya bisa masuk ke dalam team hamil kebo.
Hai kebo, thank you ♥️

Itu cerita aku tentang kehamilan di trimester ke 3.
Semoga bermanfaat ya untuk para pembaca. 😆
Timakacih udah meluangkan waktu untuk baca cerita Akoh 😘
Sampai jumpa di judul "Bulan ke sepuluh"
See you....

Bulan ke 4, ke 5 dan ke 6 kehamilan

Bulan ke empat,
Setelah bulan lalu, hanya terlihat kaki tangan kepala. Di bulan ini dokter sudah bisa lihat jenis kelamin bayi yang ada di perut riris. Karena menjelang bulan ramadhan, dokter mengizinkan riris berpuasa bila kuat. Tapi bila tidak kuat, sebaiknya jangan...
Oiya di bulan ini riris mulai suntik TT 1. Karena saat nikah dulu, ga ada suntik menyuntik dari KUA.

Bulan ke lima,
Di bulan ini riris lanjut suntik TT2.
Bulan ini perut mulai terlihat membuncit, beberapa orang yang riris temui mulai mengeluarkan kalimat andalannya
"Wah udah mulai keliatan perutnya."
Di bulan ini si bayi di dalam perut ikut berpuasa, sebulan penuh, tanpa keluhan.
Si calon ibu pun senang karena tidak punya hutang puasa 🤣😂

Bulan ke enam,
Bulan ini kehamilan masih dilewati dengan sangat baik. Semua sehat dan baik2 saja.
Jenis kelamin bayi pun masih tetap, beratnya semakin bertambah tapi anehnya berat badan si ibu tidak bertambah.
Alhamdulillah....

Terima kasih...
Wahai Dzat Yang Maha Kaya...

Bulan ke 1, ke 2, dan ke 3 kehamilan.

Senin, 02 September 2019

Sejak dokter memberitahu kalau saya positif hamil. Saya sangat menunggu keadaan yang sering teman2 saya (ibu hamil senior) ceritakan. Mulai dari mual, ngidam, membenci yang di suka, menyukai yg di benci dan keluhan kehamilan ibu hamil lainnya. Bulan ke 1 ke 2 ke 3 saya belum merasakan semua gejala itu. Alhamdulillah saya masih seperti biasa., masih seperti ketika belum hamil. Tidak ada mual, tidak ada ngidam, tidak ada hal aneh2 lainnya.

Bulan Pertama, 6 Februari 2019
Saat itu melalui USG dokter melihat embrio sudah terbentuk tapi kantungnya belum terlihat karena sangat tipis hanya 0,21 cm, dokter bilang usia kandungan diperkirakan sudah 4 minggu 3 hari. Kemudian dokter meminta saya kembali 2 minggu lagi.
.
Bulan Kedua, 21 Februari 2019
Saya kembali ke ruang dokter Hartoyo setelah menunggu dua minggu, bagi saya saat itu dua minggu terasa sangatlah lama. Kemudian dokter mengatakan kantung sudah semakin jelas terlihat dan menunjukkan bakal calon anak yang ada di dalam kantung tersebut. Beliau meminta saya menjaga asupan makanan, jangan mengangkat beban berat dan jaga kesehatan.
.
Bulan Ketiga, 30 Maret 2019
Saya masih bingung kenapa saya merasa biasa saja, tidak ada hal hal yang katanya akan saya alami selama hamil. Padahal saat itu saya sudah ada di penghujung trimester 1. Dokter mengatakan tidak semua wanita hamil akan berprilaku sama. Melalui USG 2D, dokter mengatakan janin sudah memiliki tangan dan kaki.

Alhamdulillah...
Menggemaskan sekali rasanya...
Bulan lalu, dia masih seperti rambutan.
Kini tangan dan kakinya sudah terlihat melalui USG.

Sekali lagi...
Semesta memberikan kejutan untuk saya.

Semesta Selalu Punya Kejutan

Selasa, 11 Juni 2019


Hallo... kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman pertama ketika tahu kalau saya hamil. 😁
Saat itu tanggal 23 Januari 2019, saya merasa bingung karena tidak kunjung haid. Saya termasuk wanita dengan haid teratur, jadi akan sangat mengkhawatirkan ketika "si dia" datang terlambat. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya ke google, menurut google ada kemungkinan saya hamil tapi baiknya saya menunggu seminggu untuk mengeceknya menggunakan testpack.

Seminggu kemudian saya testpack dan hasilnya satu garis merah. Obaik, saya belum hamil. Sejujurnya saya lega kala itu karena di waktu yang bersamaan saya juga sedang berniat periksa torch bertahap. Saya berencana hamil di bulan Oktober 2019. Tanggal 3 Januari saya sudah periksa toksoplasma di prodia dan rencananya tanggal 7 Februari saya akan tes HSG.

Setelah menunggu dua minggu, saya tak kunjung haid. Akhirnya saya memutuskan membeli testpack lain yang harganya lebih murah dari testpack sebelumnya karena agar supaya apabila hasilnya negatif, ga sayang banget gitu duit kebuang hehe
Eh ternyata garisnya menjadi dua. (Ini janin merakyat sekali ya, pakai testpack mahal tidak terdeteksi, pakai testpack murah malah muncul 2 garis). Tapiiiiii yang terlihat adalah satu garis merah dan yang satu garis pink. Karena saya belum yakin kalau hamil. Akhirnya saya memutuskan untuk periksa ke dokter yang sedang "memantau" saya dalam melakukan tes ini itu ini itu untuk persiapan hamil di bulan Oktober 😂

"Kamu hamil nih, selamat ya. Dijaga mas dan mbak kandungannya. Jangan angkat berat2. Jangan berhubungan suami istri dulu 15 minggu. Jangan makan saos ya. Nih... embrionya keliatan. Tp kantungnya emang masih tipis sih. Nanti kesini aja dua minggu lagi. Kita lihat perkembangannya."
Itu wejangan dokter Hartoyo yang saya ingat ketika beliau menjelaskan sambil usg rahim saya.

"Kok cepet ya, dok. Rencananya Oktober kan". Saya bertanya agak heran karena saya tidak merasakan gejala hamil pada umumnya. Kondisi saya baikbaik saja, masih seperti biasa ketika belum hamil. Dan sekali lagi, saya berencana hamil di bulan Oktober. Tapi Allah Yang Maha Baik memberikan saya kesempatan untuk melahirkan di bulan Oktober bukan hamil di bulan Oktober.

Iya...
Allah sebaik itu pada mahlukNya.
Dan manusia adalah si pembuat rencana yang baik.
Tapi semesta selalu punya banyak kejutan.

Satu Tahun Lalu

Jumat, 24 Agustus 2018

Satu tahun lalu ada wanita yang bahagia namun cemas karena hari itu adalah hari terakhir dia menjadi single.
Satu tahun yang lalu ada pria yang tidak bisa tidur nyenyak karena esok hari dia harus berjanji pada Allah untuk menjaga dan bertanggung jawab dengan wanita yang baru 3 tahun dikenalnya.
Satu tahun yang lalu ada mereka yang berdoa kebaikan agar kami langgeng hingga maut memisahkan.
Satu tahun lalu ada seorang ayah yang merelakan anak perempuannya untuk berbakti kepada laki2 yang baru 3 tahun dikenalnya.
Satu tahun lalu ada seorang ibu yang bahagia karena anak perempuannya kini sudah menjadi lebih dewasa.
Satu tahun lalu ada seorang ayah yang bahagia karena akan memiliki satu lagi anak perempuan dari keluarga lain.
Satu tahun lalu ada seorang ibu yang berbesar hati mengizinkan anak laki2nya untuk mencintai dan menjaga wanita lain selain dirinya.
Satu tahun lalu ada kami yang canggung ketika tibatiba harus tidur di kasur yang sama.
Sudah satu tahun, kami menjadi suami istri. 
Selamat satu tahun pernikahan miko.

Walau masih sangat jauh perjalanan (rumahtangga) kami, masih panjang sekali penyesuaian yang harus dilalui dan masih banyak halhal kecil ataupun besar yang akan menguji hubungan ini. Tapi, aku yakin segala sesuatu yang telah terjadi pasti sudah melalui acc Allah. 
Semoga aku segera siap untuk punya anak, semoga kita selalu sabar untuk saling mencintai dan semoga kita sehat juga banyak uang Aamiin

Menujun Akad

Sabtu, 04 Agustus 2018

Yha... hai halo semuanya ^_^
Terima kasih sudah bersedia mampir ke blog saya yang isinya random ini...
Setelah ditulisan sebelumnya saya menceritakan kejadian ketika saya memutuskan untuk menikah. Hari ini saya akan berbagi pengalaman mengenai MENUJU AKAD. 

Tidak seperti wanita pada umumnya yang bahagia banget sampai apapun persipan menuju akad mereka share di media sosial. Saya malah sebaliknya, saya menutup rapat persiapan saya menuju akad dari media sosial dan teman2 (kecuali sahabat ya).
Saya malah merasa takut juga sedih ketika menjalani harihari menuju akad. Bahkan temen2 saya sampai mengajak saya liburan ke bali sebelum melepas masa lajang, tujuan mereka antara agar saya lebih santai menghadapi hari pernikahan atau mungkin juga karena mereka bosan mendengar perkataan saya yang berpuluh kali saya ucapkan ini
“Duh, gua mau nikah nih, takut gua, tolongin dong”

Kenapa takut? 
Bagi saya saat itu, Menikah itu bukan hanya sekedar lolosnya saya dari pertanyaan kapan menikah, menikah juga mengenai kesiapan saya untuk mentaati suami, kesiapan untuk beribadah seumur hidup, kesiapan untuk memiliki anak, kesiapan untuk memasak, kesiapan untuk mengatur keuangan, dan kesiapan untuk banyak hal lainnya. 
Iya, itu sedikit dari banyak pikiranpikiran yang membuat saya saat itu takut untuk menikah meski sudah memutuskan tanggal pernikahan. 

Tapi saat menulis tulisan ini saya menyadari ketakutan itu hanya perasaan saya saja, mungkin hanya godaan setan yang ga suka manusia ibadah seumur hidup. 
Akhirnya saya memutuskan untuk mendiskusikan hal hal yang saya takutkan di detik2 terakhir menuju hari pernikahan bersama calon suami saat itu, hal itu membuat saya sedikit tidak takut 😬

Seperti pasangan calon penganten pada umumnya, tentu saja kami sudah mempersiapkan semua. Kami sudah memesan undangan di daerah kranji, memilih orangtua murid di tempat saya mengajar sebagai perias penganten, memilih nenek saya sebagai chef dan memutuskan mengundang orang2 terdekat saja.

24 Agustus 2017
Saya tidak percaya dengan pingit memingit juga dengan puasa sebelum menikah agar ga keringetan. Hal ini membuat saya masih berkeliaran untuk ke klinik krn jadwal scalling gigi saat pagi hari, saya masih ke salon di siang hari dan ketika magrib saya masih membeli kabel untuk keperluan penerangan. Bagi saya, puasa agar tidak keringetan dan pingit memingit bukan syarat sah nikah. Saya percaya, Allah melindungi semua mahluknya.

25 Agustus 2017
Saya dan Miko melangsungkan akad nikah, entah kenapa, saat itu saya tidak merasa sedih seperti acara akad yg pernah saya lihat pada umumnya. Saya merasa biasa saja. 
Ya, intinya, Tidak ada tangisan di acara pernikahan kami.
Mungkin itu pertanda kalau semua bahagia. Aamiin

Karena perasaan biasa saja itulah saya sampai sanggup main hp ketika miko masih dinasehati penghulu sebelum akad. Etapi saat sedang akad tentu saja saya meletakkan hp saya, karena itu kan serahterima saya dari bapak ke miko.


Itulah cerita saya mengenai ketakutan yang saya buat sendiri saat menuju akad. Padahal nyatanya ketakukan itu hanya perasaan saya saja. Semua baik2 saja hingga saat ini. 

Dia dalam kami

Rabu, 11 April 2018

"Kamu bawa al-matsuratnya dua atau satu? Aku pinjam dong kalau bawa dua." itu adalah kalimat  percakapan pertama dari saya untuk dia. Kalimat itulah yang menjadi pembuka untuk percakapan kami selanjutnya.
Saat itu kami duduk bersebelahan di bus yang sedang dalam perjalanan ke bandung untuk acara family gathering sekolah, tempat dimana kami bertemu dan menjadi "sepasang sepatu" kalau kata bang Tulus.

Adalah Hani.
Salah satu dari sekian banyak alasan saya menulis disini.
Bila orangtua bisa diibaratkan seperti oksigen, yang tanpanya hidup bisa terasa begitu sesak. Pasangan menjadi seperti air, yang tanpanya hari-hari akan menjadi kering. Maka bagi saya, sahabat adalah cahaya mentari yang tanpanya hari menjadi gelap. Seperti cahaya matahari, Allah mendekatkan kami agar lebih cerah dalam menjalani hari-hari kami di sekolah.

Saya selalu percaya, Allah memiliki alasan untuk mempertemukan semua mahkluk di dunia ini. Begitupun pertemuan saya dan hani.
Saya juga percaya, kita akan bersahabat dengan orang yang sesuai dengan "keadaan" diri kita. 
Contohnya Ikan akan bersahabat dengan ikan, tidak mungkin ikan bersahabat dengan burung. Begitu juga Singa akan bersahabat dengan singa, tak ada singa yang bersahabat  dengan ayam. Mengapa contohnya harus hewan? Karena itu adalah hal yang paling sederhana untuk diibaratkan.

Beberapa orang menduga duga alasan kita menjadi dekat. Beberapa orang mengira kami seperti dua kutub magnet yang bertolak belakang. Beberapa lagi tak habis pikir mengapa kami bisa selalu bersama di sekolah.  Tapi biarlah, mereka tak perlu terlalu dalam untuk tahu apa yang membuat kami saling terkoneksi.

Sering ada hari dimana saya bertanya, “Emang kita mau kemana ya?” Ketika dari jauh jauh hari kami merencanakan untuk ke suatu tempat bersama, tapi dia tetap sabar mengingatkan.
Sebulan sekali selalu ada hari dimana dia menjadi sangat berapi api karena PMS, tapi sambil tertawa kecil saya tetap “SIAP GERAK, DIAM DITEMPAT” agar marahnya tersalurkan.
Kami selalu memiliki seribu sebelas wacana dan belum ada satupun yang terealisasi, tapi kami tetap menambah wacana sambil tertawa mengejek satu sama lain.
Sering juga saya melupakan sesuatu dan dia bantu mengingatnya.
Atau ketika dia mulai menatap sinis saat saya tidak mempercayai ucapannya meski faktanya ucapannya adalah benar. 
Juga ketika kami membutuhkan pendapat satu sama lain, kami selalu terkoneksi. 


Itu adalah sedikit cerita dari sekian banyak hal yang membuat kami seperti “Sepasang sepatu selalu bersama tak bisa bersatu”

Yakini saja!

Senin, 05 Maret 2018


Hai!!! Sudah lama juga tidak mengunjungi blog sampai lupa kata sandi.

Sesuai judul dari blog kali ini, saya akan bercerita tentang cerita awal suami yang mengajak saya menikah.  Kisah yang berbeda dari kebanyakan pasangan. 

Seperti anak gadis pada umumnya yang suka ditanya “kapan nikah?”, saya pun merasakan hal tersebut dan saya selalu menjawab, “nanti akhir bulan Oktober saat usia 25 tahun.” Dan ketika si penanya bertanya balik “dengan siapa?” Saya selalu menjawab “ngga tau hehehe”

Pertanyaan belum berakhir ketika saya bertemu penanya yang selalu ingin tahu (read: lapar) ya lapar akan informasi (yang ga penting buat dia sebenernya), sehingga keluar pertanyaan “Kenapa akhir bulan Oktober?” mungkin pembaca juga bingung kenapa akhir Oktober? Alasannya karena saya ingin punya anak yang lahir bulan Agustus atau minimal berzodiak Leo. Receh ya alasannya -_- I think so. Saat itu saya masih berusia 24 tahun dan sama sekali belum punya calon pendamping.  Tapi entah kenapa saya yakin saya akan menikah di usia 25 tahun.

Sekitar Oktober 2016 jam 04.00 ada chat whatsap masuk ke Handphone saya. Chat dari orang yang saya kenal ketika kerja di salah satu sekolah berkebutuhan khusus di cikarang. Awalnya saya kira dia akan mengabari ada reuni guru sekolah tersebut, ya meskipun sekolahnya sudah pindah yayasan tapi kami yang pernah menjadi guru disana masih suka reuni lho. FYI sejak awal kami kenal di tahun 2014, kami selalu berbicara hanya untuk hal penting. Jangan harap kami berbicara menanyakan kabar. Bertemu aja hanya senyum tanpa makna. Ya, hubungan kami dari tahun 2014 hingga saat dia kirim chat di pagi buta itu hanya sebatas ‘elo kenal gua, gua kenal elo, CUKUP!’

Jadi, apa isi chat watsapnya? Isinya adalah dia langsung mengajak saya untuk bertemu dan mengajak saya menikah. Nahlo kebayang gimana perasaan saya saat itu? Tidak dekat, tidak suka, tidak pernah ngobrol lamalama tapi tiba-tiba di ajak nikah.
Sejak saat itu saya bukannya senang tapi malah dilema. Yippy....
Kata beberapa kawan adalah hal biasa wanita yang mau diajak nikah menjadi dilema karena nikah mau nya hanya sekali seumur hidup kan ya buk pak om tante pakde budhe --,

Di kepala saya sempat berpikir negatif “ah mungkin dia abis patahati ditinggal nikah pacarnya jadi dia ngajak saya nikah sebagai pelarian”. Tapi bukan itu alasannya.... saya salah saudara-saudara.

Menurut mas nya gini kira2 kalimat penjelasan yang dia katakan pada saya
 “Dulu tahun 2014 kamu punya pacar kan?  (Pacar saya saat itu bisa kalian baca di tulisan saya sebelumnya yang berjudul Dua Puluh Tujuh (Kurang Sebelas Hari) atau Kado Termanis Dari Kawan Termanis) Jadi ya aku ga deketin. Lagian tiap aku deketin kamunya menghindar. Jadi aku sama yang lain aja. Terus sebelum aku chat kamu aku abis sholat minta jodoh, aku kepikiran kamu. Ya aku chat aja ajak ketemu buat bahas aku yang mau nikah sama kamu. ^-^ ”

Setelah saya menanyakan pendapat ke beberapa orang dan berdoa kepada Sang Pemilik Alam semesta. Akhirnya saya diberi keyakinan untuk menerima ajakan nikah dia. Ya walau masih labil sih kadang mau kadang ragu tapi toh semua tetap saya jalani.

Yaaaaa.... begitulah. Yakini saja ya gengs. 
Menuju akad akan saya ceritakan di lain kesempatan.
Terima kasih sudah membaca. Ditunggu kritik dan sarannya ya.

Untuk kamu yang selalu berbaik hati

Selasa, 23 Februari 2016

Sebagai manusia biasa, saya tentu pernah berbuat tidak baik, menyakiti hati seseorang yang baik misalnya.
Pun sebagai manusia yang  bertambah usia dan pengalaman, saya bisa berubah dan meletakkan kesalahan saya di sudut terpojok dalam kotak yang dinamakan pengalaman, lalu berjanji untuk tidak akan mengulanginya.

Ketika masih awal saya memakai seragam putih abuabu, saya ingat sekitar 2008 saya pernah menjadi penyebab pilu di hatinya.
Entah sepilu apa ia saat itu karena saya. Tapi hingga detik ini, ia masih menjadi si baik.
Tanpa dendam atau benci. Justru ia yang secara tidak langsung mengajarkan saya untuk selalu berbuat baik.
Ia yang membuat saya percaya kalau tak selalu yang dijahati akan balik membalas kejahatan.

Ia selalu memaafkan, terkadang mengirim candaan tanpa nyinyir, dan ia adalah yang selalu baik.

Hingga sore tadi kami berbicara dengan candaan perihal  jodoh, nikah, dan tetekbengeknya.

Untuk kamu yang selalu berbuat baik.

Kamu baik dan akan selalu baik.
Semoga sehat dan bahagia selalu dan semoga cepat dipersatukan dengan jodohnya ya. Sorry, I can’t.

Please invite me when you marriage with her, I’ll be happy there. As your friend, I love you. Always. ^_^

Terserah - Glenn Fredly

Kamis, 17 Desember 2015

Dulu pernah pilu melebihi rapuh tapi belum hancur.
Lalu semakin pedih bila mendengar penggalan lirik lagu Glenn Fredly "....terserah kali ini sungguh aku tak kan perduli...."
Ya, apalagi kalau bukan karena kepercayaan yang dirusak dan harapan yang dipecahkan.
Tapi, seiring berjalannya waktu...
Saya bisa berdamai dengan diri sendiri, dengan keadaan, dan dengan semuanya.
Akhirnya saat ini, bila mendengar lagu itu, saya hanya tersenyum kecil dan membatin "dulu gua bego banget ya bisa sampai segitunya".

mereka dalam saya

Selasa, 14 Juli 2015

Saya ingat ini kedua kalinya mereka bertemu setelah  lebih dari satu tahun mereka saling berbicara melalui media sosial. Saya juga ingat ketika mereka bercerita mengenai awal ketertarikan mereka untuk menjadi teman. Lalu mereka mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mereka pun sempat ada dalam waktu yang  tanpa kabar untuk beberapa saat. Hingga mereka diingatkan kembali bila mereka adalah dekat.  Kini mereka dekat.

Whatever will be….  will be.

Jangan mengucapkan “selamat tinggal” tapi ucapkanlah “sampai jumpa”

Senin, 18 Mei 2015

Jangan mengucapkan “selamat tinggal” pada  siapapun yang nantinya akan kalian rindukan, ucapkanlah “sampai jumpa” agar kalian bisa berjumpa lagi.

Kami pernah bersedih karena berpisah untuk melanjutkan hidup masing masing setelah lulus kuliah, karena kami paham bahwa nantinya pertemuan tidaklah sesederhana saat kuliah dulu. Pertemuan kami setelah wisuda nanti, haruslah dilaksanakan pada waktu yang tepat apalagi salah satu sahabat terbaik kami telah pindah ke luar pulau jawa. Tapi saat itu saya yakin bahwa kami akan berjumpa lagi.
Pernah di blog sebelumnya saya menulis seperti ini.....


Alhamdulillah.... Kami bertemu lagi. Yaaaa saya, maya dan yuli. Sayangnya Ina tak bisa hadir karena ada tugas dari sekolah. Kurang lengkap? sudah pasti. Merasa ada yg hilang? tentu saja. Tapi…. kami bisa apa? Ina tak bisa ikut merupakan takdir yang Kuasa karena semua terjadi atas izin Nya.

Sabtu malam maya menginap di Matraman agar hari minggu kami  bisa berangkat bersama untuk bertemu yuli, sahabat kami...
Yuli datang ke jakarta beberapa hari untuk jalan-jalan bersama keluarganya.... Dan kami menyempatkan diri untuk bertemu meski hanya beberapa jam.
Ah tak mengapa.... Meski sebentar setidaknya kami berjumpa. Kami bisa berjabat tangan, juga bercerita tentang semua hal.

Waktu yang ditunggu pun tiba, minggu jam 10 siang kami berjumpa. Kami memilih McD di Arion karena tempat itu merupakan tempat kami berkumpul jika penat dengan tugas kuliah. Kami pun duduk di posisi yang sama ketika terakhir kami berjumpa.
Tulisan di kertas itu kami persembahkan untu Ina
Sayang Ina tak bisa hadir, tapi kami menyempatkan membuat video untuk Ina.
Hingga  jam menunjukan pukul 13.00 artinya kami harus pisah karena yuli harus naik pesawat jam 16.00
Kami harus melanjutkan hidup masing-masing lagi.
Kurang puas memang tapi Alhamdulillah kami bisa berjumpa…
Saya yakin,  suatu hari kami pasti akan berjumpa lagi, entah yuli yang ke jakarta atau malah kami bertiga yang berkunjung ke Palembang. Keyakinan yang sama seperti saat perpisahan dahulu. Amiinn…
Hati-hati di jalan Yuli. Terima kasih oleh-olehnya.
Maka…. Sampai jumpa lagi ^_^

Ingatan Tentang....

Senin, 27 April 2015

Pagi itu….
Ketika ia sedang membaca pesan singkat yang masuk di telepon genggamnya, sambil menikmati kopi hangat bersama angin yang membawa kenangan.
Teringat kenangan tentang senyuman malu-malu di kaca spion tapi  ia juga ingat saat sang pemilik senyum itu hilang beberapa hari tanpa kabar.
Berikutnyaaaa
Ia teringat sarapan yang beberapa kali diantarkan ke rumah tapi ia juga ingat tentang waktu yang teramat jarang diberikan sang pengantar sarapan untuk menikmati alam semesta berdua.
Angin pagi belum pergi...
Angin datang untuk mengingatkan tentang udara dingin yang pernah dinikmati berdua dalam perjalanan malam bersama hujan, tapi ingatan tentang dunia pertemanan sang penerobos hujan yang tak pernah ia tahu juga datang untuk mengusiknya.
Tapi ia tidak perduli, ia membiarkan ingatan itu singgah sambil melanjutkan tugasnya meneguk kopi yang mulai dingin.


Let Her Go.... karena katanya Jodoh Pasti Bertemu

Rabu, 22 April 2015

Beberapa hari lalu, salah satu teman mengirim chat yang diawali dengan kalimat...

"bener ris, jodoh pasti bertemu tp gue ama dia bertemu di pelaminan dan gue sebagai tamu undangan"

Saya sempat sedih membayangkan posisinya saat itu karena yang saya tau jika dia dan wanitanya ini merupakan pasangan yang cocok saat Sekolah Menengah. Di chat dia mengungkapkan penyesalannya terhadap sikapnya dahulu pada wanita itu. Dia mengaku bahwa dia menyesal karena tidak bisa menjaganya, menyesal karena pernah mengabaikan, dan menyesal tentang beberapa kekeliruan lain yang dilakukannya dulu terhadap wanita itu. Meski begitu…  bukan berarti temen saya ini masih cinta atau belum ikhlas si wanita nikah dan bahagia  bersama suaminya.

Sebagai temen yang baik, selain memberi semangat... saya juga mencoba untuk memberi saran tapi karena saya sendiri pun sebulan lalu baru saja pataharapan akhirnya saya tidak terlalu banyak memberi saran. 

Bagi saya selalu ada hikmah di balik kejadian sepahit apapun. Berbuat salah itu memang jelas akan menyesalkan. Tapi kesalahan akan ada sisi  positif jika dijadikan sebagai pelajaran. Dari kesalahan yang pernah tejadi, kita semakin sadar betapa pahit dan mahalnya harga sebuah kesalahan.
Semuanya kembali lagi ke diri sendiri sih.... Apakah kita mau menikmati rasa bersalah ini berlarut-larut atau sesegera mungkin mengabaikannya.
Yang selalu saya ingat dari pelajaran neuroanatomi di kampus adalah Otak bekerja atas izin kita. 
Semoga semua bahagia selalu.
Ini mungkin bisa dijadikan pelajaran buat siapapun yang sedang menjaga hati seseorang. Bahagiakan! Jaga ia! Jangan diabaikan.
Sungguh perih bila kita termasuk golongan orang yang merasa memiliki setelah kehilangan.

Lagu Let her go nya passenger pas banget nih didengar untuk ingat chat teman sambil ngupi :')

Pergi Tuan...

Minggu, 22 Maret 2015

Membuat terlalu cinta lalu meninggalkan luka di hati.
Membuat rasa aman, lalu menghancurkan semua harapan.
Setelah meninggalkan lalu kau datang meminta maaf.
Ah... TUAN.
Tuan, sungguh bumi berputar tidak sesantai itu.
Pilu hilang tidak cepat itu.
Ingatan pergi tidak semudah itu.
Tuan tahu? semua yang sudah tertutup seolah terbuka lagi.
Pergi tuan!!! biarkan aku disini...
Tuan pergi saja.
Tak ada guna maaf  itu.
Sama halnya seperti Tuan yang tak ada guna untuk datang kembali.

11 Maret 2015

Senin, 16 Maret 2015

Seperti yang ditulis pada catatan sebelumnya...
" Setidaknya dulu saya pernah menjaga, meski akhirnya saya harus melepaskan karena sudah saatnya dia dijaga dengan yang lain. Setidaknya saat ini saya bisa belajar bagaimana cara menjaga yang seharusnya. Bila Sang Pencipta menginginkan saya membiarkan yang sedang saya jaga ini dijaga oleh yang lain, semoga itu tidak pernah terjadi. Kalo terjadi? Yaaa manusia bisa apa."

Beberapa hari setelah saya menulis catatan itu, saya ditakdirkan untuk berhenti menjaga seseorang yang saat itu ada di genggaman hati paling aman.
Ternyata.... Sang Penciptan mengizinkan yang sedang saya jaga pergi, bukan pergi dengan yang lain tapi pergi karena kami sama-sama nyerah.
Iya, sudah seminggu… Semuanya selesai. Semua usai. Tak ada lagi kami. Tak ada lagi saling menjaga.
Kami lelah. Kami sama-sama menyerah. saya marah, emosi naik dengan hebat hingga meminta untuk menyelesaikan semuanya. Dan dia, saya tau dia pun lelah, emosinya pun tak padam lalu dia mengiyakan bahwa kita selesai. Seperti api bertemu api. Dan semua habis terbakar. Hanya 18 bulan.

Sedih sudah pasti... Pilu pun menyayat hati.... Lalu kenapa dilepaskan? Karena kami lelah atau karena saya, saya lelah. Bukan lelah mencintai tapi lelah mengerti apa yang dia mau. Bukan lelah menyayangi tp lelah meyakinkan diri kalau dia membutuhkan saya. Setidaknya saya sudah meminta agar lebih perduli saat sedang tidak bersama. Setidaknya saya sudah mengajak untuk menikmati semesta bersama ketika sedang jenuh. Setidaknya saya sudah menawarkan diri untuk menemaninya agar bisa bersama saat dia tak bisa pergi untuk melihat semesta karena dia sedang ada kegiatan bersama teman. Setidaknya saya sudah mengenalkan dunia sapa padanya. Bila hal yang sama tak saya dapatkan darinya. Yasudah... saya mungkin tidak bisa lagi memberi alasan untuk tidak lelah. saya tidak bisa lagi meyakinkan hati kalau dia membutuhkan saya. Sekali lagi saya katakan saya menyerah. saya pergi. kita selesai...

Take care ya my ban.
Terima kasih 18 bulannya :')
Jangan jadi orang yang merasa memiliki setelah kehilangan.
Jangan datang untuk saat ini, bukan karena benci, Riris hanya butuh waktu untuk menata kembali hati yang berantakan juga harapan yang tak sampai.

Aku pamit sayang...

Menjaga

Jumat, 31 Oktober 2014

Sore kemarin sempat mendengarkan lagu jikustik- dia harus tahu.
"..... Tapi dia harus tahu, bagaimana ku menjagamu... Tapi dia harus tahu, nananana nananananaaaaaa" gitulah kirakira liriknya.

Jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu. Cuma ingat sih jadi bukan berarti belum bisa move on. Ya cuma mau berbagi pengalaman untuk yang lain. 

Waktu itu hati saya pernah merasa jatuh cinta yang teramat sangat cinta, lalu saya merasa tidak perlu cinta yang lain, hingga saya menjaga sebisa mungkin cinta yang saya punya. Sebenarnya wajar  siapapun menjaga siapapun yang dia sayang, yang tidak wajar jika kita terlalu angkuh merasa paling pantas dan akhirnya malah berlagak seperti "penguasa". Setiap kali ada yang datang untuk singgah atau malah ingin menjaga apa yang sedang saya jaga, saya selalu merasa mereka tidak layak karena mereka tak sehebat saya.

Tapi mungkin... Saya lupa, lupa kalau saya itu tidak sempurna, lupa kalau saya itu bukan pengatur alam semesta, lupa kalau saya harusnya lebih cinta sama pemilik alam semesta. Pada akhirnya datang di kehidupannya beberapa yang mungkin lebih baik dari saya, lalu mereka bertindak seakan hendak menjaga yang selama ini saya jaga. Mungkin saya masih bisa bertahan jika akhirnya yang saya jaga menolak tawaran yang lebih baik. Mungkin saya saat ini masih sibuk menjaga jika Sang Pemilik Alam Semesta belum mengizinkan saya untuk berhenti menjaga. 

Dulu, saat awal saya menerima kenyataan kalau saya harus rela melepaskan apa yang saya jaga, saya bertanya "kenapa begini, sayang sekali Sang Pemilik Alam Semesta mengizinkan yang lain menjaga apa selama ini sekuat itu saya jaga". Tp saya bisa apa kalo Sang Pemilik Alam Semesta berkehendak demikian, saya hanya bisa menikmati, mengikuti jalan cerita, sampai akhirnya Sang Pencipta memberikan kesempatan lagi kepada saya untuk kembali menjaga, menjaga dengan sepenuh cinta orang yang setahun lebih ini datang untuk mengisi hari dengan kasih sayangnya. 

Setidaknya dulu saya pernah menjaga, meski akhirnya saya harus melepaskan karena sudah saatnya dia dijaga dengan yang lain. Setidaknya saat ini saya bisa belajar bagaimana cara menjaga yang seharusnya. Bila Sang Pencipta menginginkan saya membiarkan yang sedang saya jaga ini dijaga yang lain, semoga itu tidak pernah terjadi. Kalo terjadi? Yaaa manusia bisa apa. 

dan untuk yang sedang saya jaga, setidaknya saat ini saya sedang menjaga kamu dengan sekuat ini sepenuh cinta sesayang ini  ^_^