Tunanetra

Sabtu, 05 Mei 2012


A.   Pengertian Anak Tunanetra
            Organ mata pada umumnya dalam menjalankan fungsinya sebagai indera penglihat melalui proses berikut. Pemantulan cahaya dari objek di lingkungannya di tangkap oleh mata melewati kornea, lensa mata, dan membentuk bayangan nyata yang lebih kecil dan terbalik pada retina. Dari retina dengan melalui saraf penglihatan bayangan benda di kirim ke otak dan terbentuklah kesadaran orang tentang objek yang dilihatnya.
            Sedangkan pada organ mata tunanetera, bayangan benda yang ditangkap oleh mata tidak dapat diteruskan oleh kornea, lensa mata, retina, dan ke saraf karena suatu sebab, misalnya korea mata mengalami kerusakan, kering, keriput, lensa mata menjadi keruh, atau saraf yang menghubungkan mata dengan otak mengalami gangguan.
            Pengertian tunanetra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tidak dapat melihat (KBBI, 1989:p.971) dan menurut literatur berbahasa Inggris visually handicapped atau visual impaired. Pada umumnya orang mengira bahwa tunanetra identik dengan buta, padahal tidaklah demikian karena tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori.
            Secara etiologi, timbunya ketunanetraan disebabkan oleh factor endogen dan factor eksogen. Ketunanetraan karena factor endogen seperti keturunan (herediter). Ketunanetraan karena factor eksogen seperti penyakit, kecelakaan, obat-obatan, dan lain-lain.
            Distribusi gradasi ketajaman penglihatan untuk kepentingan layanan pendidikannya, The Section an Opthalmolo6gy of America Medical Association menyusun daftar presentase kehilangan ketajaman Penglihatan disajikan pada table berikut.
Snellen
(dalam pecahan)
Ketajaman
Penglihatan
Meter
Feet
Efisiensi
Kehilangan
6/6
20/20
100,0
0,0
6/9
20/30
91,5
8,5
6/12
20/40
83,6
16,4
6/15
20/50
76,5
23,5
6/21
20/70
64,0
36,0
6/30
20/100
48,9
51,1
6/60
20/200
20,0
80,0
            Contohnya, jika anak mempunyai ketajaman penglihatan 6/15 pada satuan meter atau 20/50 pada satuan feet, berarti ia memiliki kemampuan sama dengan 76,5% dari penglihatan anak normal, jadi efisiensi penglihatannya sebesar 76,5 dan kekurangannya sebesar 23,5%.
            Beberapa literatur menyebutkan tentang karakteristik tunanetra secara detail satu persatu. Padahal, faktanya menunjukkan bahwa  karakteristik tunanetra hanya ada satu, yaitu mempunyai hambatan dalam kemampuan penglihatan.

B.   Klasifikasi Anak Tunanetra
1.    Berdasarkan Waktu terjadinya ketunanetraan
·         Tunanetra sebelum dan sejak lahir; yakni mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan.
·         Tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil; mereka telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan.
·         Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja; mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap proses perkembangan pribadi.
·         Tunanetra pada usia dewasa; pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri.
·         Tunanetra dalam usia lanjut; sebagian besar sudah sulit mengikuti latihan-latihan penyesuaian diri.

2.    Berdasarkan kemampuan daya penglihatannya
·         Tunanetra ringan (defective vision/low vision); yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.
·         Tunanetra setengah berat (partially sighted); yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang bercetak tebal.
·         Tunanetra berat (totally blind); yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat.

3.    Berdasarkan Pemeriksaan Klinis
·         Tunanetra yang masih memiliki ketajaman penglihatan antara 20/70 sampai dengan 20/200 yang dapat lebih baik melalui perbaikan
·         Tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.

4.    Berdasarkan Kelainan pada Mata
·         Myopia; adalah penglihatan jarak dekat, bayangan tidak terfokus dan jatuh di belakang retina. Penglihatan akan menjadi jelas kalau objek didekatkan. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita Myopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa negatif.
·         Hyperopia; adalah penglihatan jarak jauh, bayangan tidak terfokus dan jatuh di depan retina. Penglihatan akan menjadi jelas jika objek dijauhkan. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita Hyperopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa positif.
·         Astigmatisme; adalah penyimpangan atau penglihatan kabur yang disebabkan karena ketidakberesan pada kornea mata atau pada permukaan lain pada bola mata sehingga bayangan benda baik pada jarak dekat maupun jauh tidak terfokus jatuh pada retina. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita astigmatisme digunakan kacamata koreksi dengan lensa silindris.

5.    Berdasarkan Kemampuan Matanya (Hosni, 1994: 26-27)
·         Kelompok yang mempunyai acuity 20/70 feet (6/21meter), artinya ia bisa melihat dari jarak 20 feet sedangkan anak normal dari jarak 70 feet ini tergolong kurang lihat (low vision).
·         Kelompok yang hanya dapat membaca huruf E paling besar pada kartu snellen dari jarak 20 feet, sedangkan orang normal dapat membacanya dari jarak 200 feet (20/200 feet atau 6/60 meter, dan ini secara hukum sudah tergolong buta atau legally blind).
·         Kelompok yang hanya sedikit kemampuan melihatnya sehingga ia hanya mengenal bentuk dan objek.
·         Kelompok yang hanya dapat menghitung jari dari berbagai jarak.
·         Kelompok yang tidak dapat melihat tangan yang digerakkan.
·         Kelompok yang hanya mempunyai light projection (dapat melihat terang atau gelap dan dapat menunjuk sumber cahaya).
·         Kelompok yang mempunyai persepsi cahaya (light perception yaitu hanya bisa melihat terang atau gelap).
·         Kelompok yang tidak mempunyai persepsi cahaya (no light perception yang disebut buta total/totally blinds).

6.    Berdasarkan Kemampuan Membaca Huruf Awas Cetakan Standar
·         Mereka yang mampu membaca cetakan standar.
·         Mereka yang mampu membaca cetakan standar dengan memakai alat pembesar.
·         Mereka yang hanya mampu membaca cetakan besar (No.18).
·         Mereka yang mampu membaca kombinasi antara cetakan besar atau regular print.
·         Mereka yang mampu membaca cetakan besar dengan menggunakan alat pembesar.
·         Mereka yang hanya mampu dengan Braille, tetapi masih bisa melihat cahaya.
·         Mereka yang hanya menggunakan Braille, tetapi sudah tidak mampu melihat cahaya.

C.   Dampak Ketunanetraan
           Kehilangan seluruh atau sebagian fungsi penglihatan pada anak tunanetra akan menimbulkan dampak negative atas kemampuannya yang lain, kemampuan mendayagunakan kemamppuan fisiknya yang lain, seperti pengembangan fungsi psikis dan penyesuaian sosial.
1.  Dampak ketunanetraan terhadap perkembangan bahasa dan komunikasi
·         Awal mula perkembangan bahasa pada anak yang mengalami hambatan dalam penglihatan sama dengan anak awas lainnya, dimulai dengan mengucapkan bunyi-bunyi vokal pada usia sekitar 8 minggu.
·         Mulai mengoceh sampai usia 12 minggu
·         Mulai mengucapkan suku kata sampai usia 28 minggu
·         Mulai mengucapkan kata yang bermakna dan mulai meniru bunyi pengucapan kata sampai usia 48 minggu.
·         Mulai memahami banyak kata yang bermakan sampai satu tahun.
·         Setelah melewati usia 1 tahun, anak yang mengalami hambatan visual akan menunjukkan perkembangan bahasa yang lambat, karena keterbatasan untuk mengobservasi dan memadukan secara simultan antara bunyi kata, makna bunyi kata, dan objek yang memiliki makna bunyi kata ybs.
·         Konsekwensinya anak akan kehilangan berbagai stimulasi untuk merangsang perkembangan bahasanya.
·         Dalam melakukan dialog dengan orang lain, anak yang mengalami hambatan visual akan kesulitan untuk mengembangakan pembicaraan, karena keterbatasan objek pembicaraan, sehingga anak kehilangan banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan bahasanya.

2.  Dampak ketunanetraan terhadap perkembangan perilaku
            Perilaku-Perilaku Unik Tunanetra Sebagai Dampak Dari Kehilangan Kemampuan Penglihatannya yaitu
a.    Tunanetra kadang sering kurang memperhatikan kebutuhan sehari-harinya, sehingga ada kecenderungan orang lain untuk membantunya dan menjadikan tunanetra cenderung berperilaku pasif.
b.    Menggosok-gosok mata secara berlebihan.
c.    Menutup  atau  melindungi  sebelah   mata, memiringkan mata atau menjorongkannya ke depan.
d.    Mengalami kesukaran  pada saat  membaca  atau dalam pekerjaan-pekerjaan lain yang membutuhkan ketelitian mata.
e.    Mengedipkan mata secara berlebihan atau lekas marah   pada  saat  melakukan  pekerjaan  yang membutuhkan ketelitian mata.
f.     Membaca buku pada jarak yang dekat.
g.    Tidak  dapat melihat  benda-benda  yang  jauh secara jelas.
h.    Mengedipkan  kelopak  mata  atau  mengerutkan dahi secara berlebihan.
i.      Pengulangan Prilaku  (Streotypic Behaviors). Stereotip", adalah pengulangan-pengulangan gerakan seperti gerakan  menggoyang  atau menggosok-gosok mata.  Sering disebut  dengan  istilah  blindism. Beberapa teori menjelaskan bahwa perilaku stereotip mungkin ditimbulkan akibat dari tidak adanya rangsangan sensoris, terbatasnya aktifitas dan gerak di dalam lingkungan, serta keterbatasan sosial.  Ada tiga teori umum tentang penyebab terjadinya prilaku stereotip:               
1)    Hilang  (berkuranya)  rangsang  penginderaan.
2)    Hilangnya  kesempatan  sosialisasi.  Isolasi  sosial  dapat      menyebabkan  seseorang mencoba  mencari tambahan stimulus melalui  prilaku  stereotip (Warren, 1977,1981).
3)    Terjebak  ke dalam pola prilaku rutin (kebiasaan).  'Modifikasi tingkah laku' sering digunakan untuk  menghilangkan prilaku  menstimulasi  dirinya  sendiri pada anak yang   mangalami  gangguan  prilaku  ataupun  kepada  anak   yang terbelakang  mental  (Foxx and Azrin, 1973) 

3.  Dampak ketunanetraan terhadap perkembangan kognitif
            Perkembangan Akademik. Dampak dalam bidang akademik yang sangat dirasakan oleh tunanetra adalah dalam bidang membaca dan menulis. Tunanetra membutuhkan media tulisan braille sebagai pengganti dari tulisan awas. Tunanetra juga akan mengalami kesulitan jika kegiatan akdemik dilaksanakan dengan menggunakan media yang membutuhkan kemampuan visual          
            Dengan menggunakan braille tunanetra dapat mengembangkan kemampuan membaca dan menulis secara optimal, mereka bisa mengembangkan kemampuan membaca dan menulis seoptimal mungkin dengan pelayanan pendidikan yang memenuhi kebutuhan khususnya. Kesulitan ini akan menjadi lebih berat jika tunanetra disertai dengan kesulitan lain.
           
            Lowenfeld menggambarkan dampak ketunanetraan terhadap perkembangan kognitif dengan mengidentifikasikan keterbatasan mendasar pada tiga area berikut;
1)    Tingkat dan keanekaragaman pengalaman
            Bagi anak yang mengalami ketunanetraan, maka pengalaman harus diperoleh dengan menggunakan indera-indera lainnya, Meskipun demikian, indera-indera tersebut tidak dapat secara langsung memperoleh informasi tertentu, misalnya untuk memperoleh informasi yang tepat tentang bentuk, ukuran, warna, dan hubungan ruang.
            Untuk mengetahui ukuran dan bentuk, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk mendapat informasi tentang bentuk dan ukuran tunanetra harus melakukan eksplorasi secara menyeluruh dengan kontak pada benda yang dimaksud, padahal tidak semua benda dapat diraba secara langsung, misalnya gunung, bulan, dan sebagainya.

2)    Kemampuan untuk berpindah
            Penglihatan memungkinkan setiap orang yang memiliki kemampuan penglihatan normal untuk dapat berpindah-pindah tempat secara leluasa, akan tetapi tidak demikian halnya dengan tunanetra, mereka harus mempelajari bagaimana untuk melakukan mobilitas dengan aman dan efisien dalam suatu lingkungan melalui keterampilan orientasi dan mobilitas. Keterbatasan tersebut mengakibatkan keterbatasan dalam memperoleh pengalaman dan juga berpengaruh pada hubungan sosial.

3)    Interaksi dengan lingkungan
            Tunanetra tidak memiliki kemampuan untuk dapat secara cepat memahami lingkungan dimana ia berada, meskipun dengan keterampilan orientasi dan mobilitas yang sangat baik. Tunanetra membutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses interaksi dengan lingkungan dimana ia berada.

4.  Dampak ketunanetraan terhadap perkembangan sosial dan emosi
·         Dampak Ketunanetraan Terhadap Kemampuan Sosial Dan Emosional
            Keterampilan sosial dan emosional yang dimiliki oleh orang awas kebanyakan diperoleh atau dipelajari melalui proses observasi kebiasaan dan kejadian sosial dan emosional kemudian menirunya.
            Pada tunanetra, proses observasi berbagai kebiasaan dan kejadian sosial dan emosional tidak bisa dilakukan dengan mudah, karena saluran informasi yang digunakan untuk mengamati dan meniru secara langsung berbagai keterampilan sosial dan emosional tersebut mengandalkan kemampuan persepsi lain selain persepsi visual. Dampaknya, mereka sering mengalami kesulitan dalam melakukan prilaku sosial dan emosional yang benar, bahkan yang sederhana sekalipun.
·         Beberapa Fakta Dampak Ketunanetraan dalam Kemampuan Sosial dan Emosional pada Anak Usia Pra-Sekolah
v  Beberapa anak masih membutuhkan perawatan medis secara intensif, terutama pada masa awal setelah kelahiran
v  Tidak bisa melakukan proses kontak mata
v  Dalam mengembangkan konsep diri, sentuhan kasih sayang dari orang tua hanya bisa dilakukan melalui kontak fisik dan suara
v  Tidak bisa menunjukkan reaksi senang atau tidak senang secara wajar ketika mendapatkan stimulus
v  Beberapa anak menunjukkan gerakan-gerakan pada anggota gerak tubuh yang salah suai dalam merespon stimulus
v  Beberapa anak ditolak atau tidak diterima oleh lingkungann sekitar, terutama oleh orang tua dan caregiver
·         Beberapa Fakta Dampak Ketunanetraan dalam Kemampuan Sosial dan Emosional pada Anak Usia Sekolah Dasar
v  Banyak anak yang masuk sekolah dengan latar belakang perilaku over-protective di rumah, sehingga pada saat masuk sekolah mereka hanya memiliki sedikit peluang untuk bisa bergabung bersama teman sebaya di sekolah
v  Beberapa anak masih membutuhkan perawatan atau program khusus lain dari RS maupun profesional lain, sehingga kesempatan belajar di sekolah menjadi lebih terbatas
v  Kondisi mata yang berbeda dari teman yang lain bisa menjadi bahan cemooh teman-temannya, dan bagi anak tunanetra sendiri dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa memahami perbedaan yang dialaminya
v  Pada saat KBM di kelas, ATN membutuhkan perlengkapan atau alat bantu yang berbeda dari kebutuhan siswa biasa lainnya
v  ATN banyak mengalami kesulitan untuk bisa membina hubungan sosial dalam kelompok sosial teman sebaya, karean keterbatasan keterampilan sosial ATN sendiri maupun karena reaksi penolakan dari kelompok sosial
v  ATN banyak menunjukkan “reaksi yang salah” dalam proses bermain dengan teman sebaya di sekolah
v  Beberapa ATN mungkin akan merasa kesepian dan merasa terisolasi ketika berada di lingkungan orang-orang awas

D.   Fungsi panca indera bagi tunanetra
              Seseorang yang kehilangan penglihatan, biasanya pendengaran dan perabaan akan menjadi sarana alternative yang digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap lingkungan sekitarnya. Kelebihan indra pendengaran sebagai transmisi dalam berinteraksi dengan lingkungan bagi anak tunanetra dapat membantu memberikan petunjuk tentang jarak atau arah objek dengan mengenal suaranya (Cruickshank, 1980), namun ia tidak dapat mengenal wujud kongkret tentang objek yang dikenalnya.
              Anak tunanetra terhadap  benda atau objek yang dikenalnya cenderung bersifat verbalistis, yakni pengenalan yang sebatas kata-kata atau suara tanpa memahami makna atau hakikat benda atau objek yang dikenalnya.
              Perabaan sebagai sarana alternative lainnya setelah pedengaran, perabaan dapat membantu anak tunanetra untuk memperoleh pengalaman kinestetik. Melalui perabaan, anak tunanetra dapat langsung melakukan kontak dengan objek yang ada disekitarnya. Urgensi perabaan bagi anak tunanetra dapat memberikan gambaran secara konkret mengenai ukuran, posisi, temperature, berat dan bentuk, di samping juga berguna sebagai pengganti mata dalam kegiatan membaca tulisan yang menggunakan huruf Braille. Bentuk dan formasi huruf Braille yang dikonstruksi dari kumpulan titik-titik timbul, baik yang di cetak dengan reglet atau mesin ketik Braille.
              Pengenalan terhadap benda yang dapat dijangkau anak tunanetra melalui perabaan, dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, PERSEPSI SINTETIK yaitu objek yang diamati secara keseluruhan, baik diraba dengan satu tangan atau dua tangan, untuk selanjutnya diuraikan bagian-bagian tertentu. Kedua, PERSEPSI  ANALITIK yaitu persepsi perabaan pada objek yang tidak tercakup satu atau dua tangan karena objek terlalu besar sehingga prosesnya perlu menelusuri bagian dari objek satu persatu (Moerdiani, 1987)
              Observasi anak tunanetra lewat model dalam memperoleh informasi jauh lebih baik daripada hanya diucapkan. Mandola (1968) dalam suatu penelitiannya mengemukakan, bahwa secara factual model banyak digunakan oleh guru anak tunanetra sebagai alat bantu untuk menjelaskan asumsi yang konkret.
              Indra pencium, pengecap dan perasa, bagi anak tunanetra berfungsi melengkapi pemerolehan informasi atas indra pendengaran dan perabaan.
              Seringkali orang beranggapan anak tunanetra memiliki indra keenam. Anggapan ini didasarkan secara empiris menunjukan bahwa ketajaman fungsi indra anak tunanetra terkadang melebihi anak normal. Studi yang dilakukan untuk mengungkap misteri tersebut, ternyata sulit untuk dibuktikan bahwa kondisi ketunanetraan secara otomatis berpengaruh terhadap ketajaman fungsi indra keenam, melainkan kondisi tersebut terjadi sebagai hasil dari pelatihan, praktik, adaptasi, dan peningkatan penggunaan indra yang masih berfungsi.

E.   Kondisi kecerdasan anak tunanetra
              Untuk memperoleh gambaran tentang kapabilitas seseorang, lazim digunakan tes intelegensi. Melalui skor-skor yang diperoleh, selanjutnya yang bersangkutan dapat dikasifikasikan kedalam kelompok bawah rata-rata, rata-rata, dan diatas rata-rata.
              Ada beberapa jenis tes yang diciptakan untuk mengukur tingkat kecerdasan yang khusus diperuntukkan bagi anak tunanetra, antara lain Ohwaki Kohn Block Design, Hisblind Learning Design, Interim Heyes-Binet Inteligence Test, Tes Verbal dari WISC, Blind Learning Aptitude Test.
              Heyes, seorang ahli pendidikan anak tunanetra telah malakukan penelitian terhadap kondisi kecerdasan anak tunanetra. Kesimpulannya :
1.    Ketunanetraan tidak secara otomatis mengakibatkan kecerdasan rendah
2.    Mulainya ketunanetraan tidak mempengaruhi tingkat kecerdasan
3.    Anak tunanetra ternyata banyak yang berhasil mencapai prestasi intelektual yang baik, apabila lingkungan memberikan kesempatan dan motivasi kepada anak tunanetra untuk berkembang.
4.    Penyandang ketunanetraan tidak menunjukan kelemahan dalam intelegensi verbal.
              Kesimpulan dari hasil penelitian diatas, setidaknya menegaskan bahwa pada dasarnya kondisi kecerdasan anak tunanetra tidak berbeda dengan kondisi kecerdasan anak pada umumnya (Bateman, 1962). Apabila diketahui kondisi kecredasan anak tunanetra lebih rendah dari anak awas/melihat pada umumnya (Tillman, 1969) hal tersebut disebabkan karena anak tunanetra mengalami hambatan persepsi, berpikir secara komprehensif dan mencari rangkaian sebab akibat (Anam, 1981).
              Cruickshank (1980) menjelaskan bahwa aplikasi terhadap struktur kecakapan anak tunanetra yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengkomparasikan dengan anak pada umumnya, antara lain sebagai berikut :
1.    Anak tunanetra menerima pengalaman nyata yang sama dengan anak pada umumnya, dari pengalaman tersebut kemudian di integrasikan ke dalam pengertiannya sendiri.
2.    Anak tunanetra enderung menggunakan pendekatan konseptual yang abstrak menuju ke konkret, kemudian menuju fungsional setra terhadap konsekuinsinya, sedangkan pada anak awas/melihat yang terjadiadalah sebaliknya.
3.    Anak tunanetra pembendaharaan kata-katanya terbatas pada deficit kata
4.    Anak tunanetra tidak dpat membandingkan, terutama dalam hal kecakapan numeric.
              Lowenveld (dalam Kirk, 1970) menyebutkan bahwa keterlambatan tersebut terjadi karena terbatasnya hal-hal berikut.
1.    Tingkat variasi dan pengalaman yang diperoleh anak tunanetra
2.    Kemampuan untuk memperolehnya
3.    Control dari lingkungan dan dari anak tunanetra sendiri  dalam hubungan antara keduanya.

F.    Fungsi orientasi mobilitas bagi anak tunanetra
         Bagi anak tunanetra, hilangnya fungsi persepsi visual sebagai alat orientasi menyebabkan kemampuan utuk melakukan mobilitas di lingkungannya menjadi terhambat. Anak tunanetra masih memiliki kesempatan untuk mencari substitusi dari kompensasi hilangnya persepsi visualnya. Untuk mengoptimalisasikan fungsi-fungsi indra yang lain anak tunanetra perlu latihan yang serius, teratur, serta keberanian sebab hal itu akan banyak membantu anak tunanetra untuk melakukan orientasi dan mobilitas terhadap lingkungannya.
           Alat bantu yang biasa digunakan tunanetra untuk melakukan orientasi dan mobilitas  yang lazim biasanya berupa tongkat putih yang khas. Tongkat putih bagi anak tunanetra, selain berfungsi memberi tahu kepada orang lain, bahwa pemakainya adalah penderita tunanetra, dapat juga berfungsi untuk menambah rasa percaya diri.
           Kualitas kemampuan orientasi dan mobilitas sangat dipengaruhi oleh locomotion dan orientasi mental. Locomotion dapat diartikan sebagai gerakan organism dari suatu tempat ke tempat lain atas usaha organisme itu sendiri, sedangkan orientasi mental dapat iartikan sebagai kemampuan individu untuk mengenali lingkungan sekitarnya serta hubungan dirinya dengan lingkungan sekitarnya.
           Dengan meningkatnya kemampuan orientasi dan mobilitas terhadap medan yang ada disekitarnya dapat membantu anak tunanetra untuk mengatasi berbagai rintangan yang menghadangnya (obstacle perception).

G.   Kemampuan bahasa dan bicara anak tunanetra
           Anak yang sejak lahir mengalami tunanetra beratakan kesulitan untuk belajar ahasa sebab sebagian besar proses pembelajaran bahasa dan bicara pada anak melalui imitasi dan penglihatan yang diobservasi dari lingkungannya. Atas dasar itulah, perkembangan bahasa anak yang mengalami ketunanetraan sejak lahir, konsep perbendaharaan kata yang dimiliki lebih lambat dibandingkan dengan anak normal, sebab anak tunanetra hanya mengenal nama-nama tanpa mempunyai pengalaman untuk memahami hakikat secara langsung objeknya, interprestasinya  hanya menurut gagasannya, dan cenderung verbalistik.
           Stingfield (1963) menyimpulkan hasil penelitiannya bahwa tidak sedikit anak tunanetra yang menunjukan gangguan bahasa dan bicara. Baik gangguan bicara yang bersifat organis maupun fungsional. Gangguan bicara yang bersifat organis penyebabnya adalah gangguan pada lidah, langit-langit lembut, dan organ-organ artikulasinya. Sedangkan gangguan bicara sebab fungsional, penyebabnya adalah regresi, egois, gembira yang berlebihan, rendah diri, dan kompensasi yang berlebihan. Bentuk-bentuk gangguan bahasa dan bicara yang seringkali terjadi pada anak tunanetra meliputi kesalahan ucap, pelat, dan gagap. Frekuensi terbesar gangguan bicara pada anak tunanetra disebakan rusaknya organ bicara.

H.   Kemampuan membaca anak tunanetra
Anak tunanetra dalam belajar membaca menggunakan cara yang khusus, yakni menggunakan huruf-huruf yang diciptakan oleh braille. Sebelum ditemukan huruf braille, pengajaran membaca pada anak tunanetra sempat dicoa dengan menggunakan huruf latin yang dibuat timbul, namun hal ini rupanya kurang efektif dan efisien. Huruf braille yang digunakan sebagai pengganti huruf latin, terdiri atas titik-titik yang ditumbulkan dan dibaca dengan jari-jari. Huruf braille tersusun dari enam buah titik, dua dalam posisi vertical dan tiga dalam posisi horizontal.
            Penggunaan jari-jari sebagai alat pembaca huruf braille, Burken (1932) dalam penelitiannya menyimpulkan, bahwa jari-jari yang dominan dalam membaca braille adalah telunjuk dan jari tengah. Cara membacanya yakni gerakan naik turun dan horizontal, boleh juga dengan memutar. Membaca braille dengan tangan kanan lebih efisien daripada membaca braille dengan tangan kiri, serta membaca braille dengan diam lebih cepat daripada membaca dengan oral.

I.      Penyesuaian sosial anak tunanetra
            Lingkungan (keluarga, masyarakat, sekolah) berperan dalam membantu anak tunanetra untuk mengeliminasi potensi masalah yang dapat menghambat perkembangan psiko-sosial anak tunanetra akibat keterbatasan kemampuannya. Jika lingkungan dapat memberikan kesempatan untuk berbuat, serta membantu anak tunanetra untuk melakukan penyesuaian sosial yang sebaik-baiknya, niscaya perkembangan kepribadian anak tunanetra tidak berbeda sebagaimana layaknya anak normal lainnya.
            Peran pendidik sangat penting dalam penyesuaian sosial anak tunanetra. Peran pendidik selain mengarahkan dan membina pengetahuan anak tunanetra tentang kenyataan yang ada disekitarnya, juga menumbuhkan kepercayaan diri serta menanamkan perasaan bahwa dirinya dapat diakui dan diterima oleh lingkungannya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Indonesia

About Me

Foto Saya
Riris Agustin
Pasti ada hikmah disetiap perjalanan dan juga ada kesimpulan pada setiap kalimat di blog ini. Selamat Membaca.
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.